35 Menit di Kedai Cokelat

Posted in Secangkir Kopi on 8 September, 2009 by tanfidz

Usai kelas “Make Decision” aku putuskan untuk pulang ke Apartement. Kurang enak badan. Abdul dan Victor sudah menahanku beberapa kali. Mereka ingin aku ikut ke bioskop sore itu. Nonton Film-nya aku tidak keberatan, Cuma kalau sudah Nicole dan Viana ikut, ngobrolnya jadi panjang. Dua tuan putri itu punya karakter rada-rada mirip. Keduanya melankolis. Nggak bisa lihat rinai hujan di Darling Harbor, bisa-bisa awan hitam pekat dibilang jingga oleh mereka. Kalau dibiarkan dan kita nggak bisa menahan mereka, kita bisa melihat mereka berdua basah kuyup nyemplung ke laut.

Perubahan cuaca di Sydney sulit untuk diperkirakan saat ini. Sama seperti Amsterdam saat ini, temanku Dina yang sedang kuliah disana kemarin chating via Facebook bilang kadang lima menit panas, lima menit hujan, untung nya Sydney nggak separah itu. Cuma hujannya bisa 2 Jam. Gimana kalau Jakarta kalau hujan selama itu nggak berhenti-henti ya. Aku nggak bisa bayangkan itu. Pasti tempat kontrakan ku dulu di tepian Ciliwung airnya meluap sampai jauh. Baca lebih lanjut

Toko Buku Usang di Depan Café

Posted in Agama on 4 September, 2009 by tanfidz

Aku agak terlambat bergerak dari Apartemen karena memang terlalu banyak yang harus aku jemur. Hari itu aku mendapatkan jatah untuk mencuci pakaian dari kawan-kawan sekamarku. Kebetulan begitulah aturan main yang kami buat dalam kebersamaan kami di rantau orang.

Bergegas berlarian berharap tidak ketinggalan kereta pukul 14 lewat 20 menit. Dengan terengah-engah akhirnya kereta ku dapatkan. Siang itu kereta ke arah City lengang seperti siang-siang sebelumnya. Tiga puluh menit perjalanan menuju Town Hall ku rasakan cukup bersahabat. Yang ku harap, aku tidak bertemu lagi dengan begundal kemarin yang memaksa minta tiket weekly ku. Ya, begitulah Sydney kota yang ku bayangkan makmur, masih menyimpan cerita seperti layaknya Jakarta yang kutinggalkan. Lamunanku tiba-tiba mendarat di Jakarta, satu persatu bayangan kawan-kawan mampir di sudut ingatanku. Baru dua bulan mereka aku tinggalkan tapi di saat musim dingin begini ku merasakan begitu lama. Baca lebih lanjut

Kemenangan Bersama Harus Diciptakan

Posted in Uncategorized on 4 September, 2009 by tanfidz

Setiap manusia memiliki sisi kelemahan. Karena memang kita diciptakan untuk saling melengkapi. Saling support. Tidak ada di dunia ini manusia yang bisa mandiri. Apa ada manusia yang bisa bener-benar Independen? Nggak ada. Ketika dia mengatakan bahwa dia tidak berkelompok, maka dalam ketidak berkelompokannya itulah dia berkelompok. Meminjam bahasa Stepehn R.Covey dari Independen menjadi interdependen (nampaknya harus baca ulang deh 7 Habists). Baca lebih lanjut

Adillah Pada Buruh

Posted in Buruh on 21 Januari, 2008 by tanfidz

Laporan Board Executive IMF yang dirilis 22 Februari 2006 lalu menyebutkan pemerintah telah membuat langkah maju memberantas korupsi. Namun dalam meningkatkan labour market flexibility (fleksibilitas pasar tenaga kerja), pemerintah masih lamban. Laporan itu memperlihatkan IMF memiliki kepentingan terhadap revisi Undang-undang No 13/2002 tentang Ketenagakerjaan (UUK).

Draf RUU revisi UUK yang merupakan bagian dari ‘paket perbaikan iklim investasi’ tersebut dikukuhkan dengan Inpres No 3/2006. Draf RUU itu tampaknya akan direvisi lagi dari nol, mengingat buruh tidak dilibatkan dalam pembahasan draf awal yang diajukan pemerintah. Baca lebih lanjut

Upah Buruh Migrant Indonesia Tanggungjawab Siapa?

Posted in Buruh on 21 Januari, 2008 by tanfidz

IRONIS, absurd. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan permasalahan buruh migran di Indonesia. Begitu banyak masalah yang muncul tapi, tidak ada tindakan konkrit ke arah perbaikan yang signifikan. Pemerintah sepertinya tidak serius untuk mencari jalan keluar dari 80 persen permasalahan yang timbul pada pra-keberangkatan buruh migran. Lebih-lebih untuk 20 persen permasalahan buruh migran, ketika mereka berada di negeri orang.Pada peringatan hari buruh migran yang jatuh pada 18 Desember lalu, seharusnya menjadi refleksi pemerintah Indonesia mengenai kinerja yang dilakukan selama ini. Bagaimana penghargaan pemerintah terhadap para pahlawan devisa ini? Apakah sudah memenuhi harapan para buruh migran, jika dilihat dari perspektif perlindungan? Baca lebih lanjut